Refleksi Hari Santri untuk Menguatkan Ukhuwah Wathaniyah

Refleksi Hari Santri untuk Menguatkan Ukhuwah Wathaniyah
Pengarang
Subdit Kepustakaan Islam 
Instansi
Kementerian Agama RI 
Kategori
Hari Santri 
Statistik Data
 
Tgl. Publish
Selasa, 20 Oktober 2026 

Refleksi Hari Santri untuk Menguatkan Ukhuwah Wathaniyah

الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ َ قَالَ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik dalam hidup dan bekal terbaik untuk akhirat.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah

Di Indonesia ada satu hari yang mengingatkan kita pada perjuangan para ulama dan santri, yaitu Hari Santri. Hari Santri bukan hanya peringatan biasa. Hari santri merupakan momentum untuk mengingat bahwa santri memiliki peran besar dalam menjaga agama, menjaga persatuan umat, dan menjaga keutuhan bangsa. Santri bukan hanya belajar kitab dan ibadah, tetapi juga belajar akhlak, adab, persatuan, dan cinta tanah air. Para ulama dan santri dahulu berjuang mempertahankan negeri ini. Di antara tokoh ulama besar yang menyerukan perjuangan mempertahankan tanah air adalah KH. Hasyim Asy’ari yang mendeklarasikan resolusi jihad. Ini menunjukkan bahwa menjaga negara dan persatuan adalah bagian dari ajaran agama.

Sebagai bagian dari generasi emas umat Islam para santri memiliki tanggung jawab seperti Alfatih muda ketika menaklukkan Konstantinopel atau Salahuddin al-Ayyubi sebagai panglima peran Muslim yang disegani kawan maupun lawan. Ada ungkapan terkenal yang menatakan bahwa dalam setiap 100 tahun akan muncul seorang penggerak dan pembaharu di dunia Islam. Berangkat dari ungkapan ini, para santri harus menumbuhkan tekad dalam dirinya bahwa sayalah orang yang akan membuat perubahan. Para santri harus memacu semangatnya untuk terus menuntut ilmu dan mewujudkan kemajuan Islam dan masyarakat.

Konsep pendidikan ma’iyyah (kebersamaan) yang diterapkan di pondok pesantren mengikuti konsep pendidikan yang pernah dipraktikkan langsung oleh Rasulullah saw. Kita mengenal dari catatan sejarah bahwa dulu pada masa Rasulullah saw. ada sahabat-sahabat yang sangat dekat dengan beliau. Mereka bergaul dan menetap tidak mau jauh dari baginda Nabi saw. Saking cintanya kepada Rasulullah sebagian mereka menetap di serambi masjid sehingga kelak mereka dikenal dengan sebutan ashhabus suffah.

Sebuah artikel dalam Jurnal Qalam, Vol. 06, No. 01, tahun 2025 menuturkan bahwa saat ini sejumlah pesantren mulai menunjukkan kecenderungan untuk menerima teknologi dan gagasan modern sebagai bagian dari pembaruan. Indikator nyata dari perubahan tersebut terlihat pada meningkatnya jumlah santri yang mempelajari dan menguasai bahasa asing, seperti bahasa Inggris. Sebagai penyeimbang, terdapat pula pergeseran dalam pengajaran bahasa Arab, yang kini tidak hanya berfokus pada tata bahasa, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berbicara dan menulis dengan lancar. Kecenderungan ini tumbuh didorong oleh kebutuhan untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat manusia.

Karena itu, jihad hari ini tidak lagi tentang perang dan perlawanan fisik, tetapi perjuangan dan kreativitas santri dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Ini merupakan wujud jihad yang utama. Ungkapan senada dikatakan oleh Syekh Zainuddin Al-Malybari dalam kitab Fathul Mu’in bahwa jihad sesungguhnya tidak hanya berarti mengangkat senjata, tetapi mengandung makna yang lebih luas yaitu bagaimana memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam berbangsa dan bernegara.

Jemaah Jumat Rahimakulullah

Komunitas dan kehidupan yang dikembangkan di pesantren sesungguhnya merupakan gamabran dari kehidupan umat Islam itu sendiri. Para santri dari berbgaai latar belakang budaya dan etnis hidup bersama di pesantren yang merupakan madinatul ilmi. Mereka saling berbagi pengetahuan, saling mengingatkan dalam kebajikan, dan saling berlomba dalam kebaikan. Jika dulu Rasulullah menyatukan kaum Muhajirin dan Ansar maka para kyai saat ini meneladaninya dengan menyatukan dan mempersaudarakan para santri. Semuanya hidup bersama untuk mewujudkan tujuan yaitu belajar. Dan ketika para santri tuntas belajar di pesantren, kemudian memasuki gelanggang perjuangan yang lebih luas di tengah masyarakat, mereka juga harus berupaya menjaga harmoni dan persatuan umat. Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Ḥujurāt (49) ayat 10:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”

Dan Allah juga berfirman dalam Surah Āli ‘Imrān (3) ayat 103:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

Ayat ini menjadi dasar bahwa Islam tidak mengajarkan perpecahan, tetapi mengajarkan persatuan. Islam tidak mengajarkan permusuhan, tetapi mengajarkan persaudaraan. Santri harus menjadi penguat persaudaraan, bukan penyebab perpecahan. Santri harus menjadi penyejuk di tengah masyarakat, bukan menjadi orang yang mudah menyalahkan dan memecah belah.

Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.

Hadis tersebut mengajarkan bahwa kita harus saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan, saling membantu, bukan saling menjatuhkan, saling menopang bukan saling menentang.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah

Pada akhirnya, santri menjadi simbol persatuan yang merupakan nikmat besar dari Allah. Banyak negara hancur karena konflik dan perpecahan. Karena itu, menjaga persatuan adalah bagian dari ibadah dan syukur kepada Allah.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ، اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي ٱلْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ. عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Form Generate Sitasi

Kolom Komentar

Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.

* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.

Subscribe ELIPKSI

Jangan Lewatkan

Jangan sampai Anda terlewatkan update buku terbaru dari ELIPSKI, segera berlanganan gratis melalui email.

Verifikasi Google pada formulir ini hanya berlaku di situs Kemenag.

Buka formulir berlangganan