Santri dan Amanah Keilmuan di Era Disinformasi
إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اَللهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن .يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
Maasyiral muslimin rakhimakumullah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, dan sahabatnya. Khatib berwasiat kepada diri khatib sendiri dan jemaah salat Jumat sekalian. Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Dengan menjalankan sesuai perintah sesuai ketentuan-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Di antara wujud takwa kepada Allah adalah memelihara kejujuran dalam ucapan, tindakan, dan juga pikiran. Kita juga harus menjaga lisan sehingga tidak mengucapkan dusta, fitnah, dan keburukan lainnya. Di era teknologi informasi, teramat banyak godaan yang mendorong lisan dan jari-jari tangan kita untuk menerima dan menyebarkan berta bohong, fitnah, celaan, dan juga kecaman kepada orang lain, bahkan termasuk kepada orang yang sepenuhnya tidak kita kenal. Ketika menerima kabar atau informasi dari siapa pun, terlebih lagi dari orang yang telah dikenal dengan kefasikannya, semestianya kita melakukan tabayun terlebih dahulu. Jangan langsung menerima, memercayi, dan apalagi kemudian menyebarkannya kepada khalayak. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Di era medsos seperti sekarang kita banyak disuguhi berita yang dibuat dengan cepat dan disebarkan dengan massif dalam waktu singkat. Banyak orang yang tidak sempat atau tidak mau mencerna lebih dulu, apalagi menelusuri kebenaran kabar yang diterima. Setiap orang dapat menjadi pembuat dan penyebar informasi sehingga terjadi banjir informasi di berbagai media sosial dan media lainnya.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,
Tema khutbah kita hari ini adalah “Santri dan Amanah Keilmuan di Era Disinformasi.” Pengertian santri tidak hanya meliputi anak-anak atau remaja yang mondok dan belajar di pesantren. Santri merupakan simbol pencari ilmu, penjaga adab, dan pewaris perjuangan ulama. Santri memiliki amanah besar untuk menjaga ilmu agar tetap lurus, jernih, dan memberi kemaslahatan bagi umat.
Ujian yang kita hadapi saat ini menjadi lebih berat karena menjaga amanah keilmuan menghadapi banyak tantangan. Potongan ceramah kutipan ayat, potongan hadis disebarluaskan dengan mudah tanpa memahami konteksnya, bahkan sering kali disalahpahami. Banyak berita bohong dikemas dengan simbol agama untuk mengarahkan dan meyakinkan pada pendapat dan kesimpulan yang tidak tepat. Padahal Rasulullah saw. telah mengingatkan:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar. (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa tidak semua informasi layak disebarkan. Seorang muslim harus memiliki sikap tabayyun, kehati-hatian, dan tanggung jawab moral sebelum menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Informasi yang diterima harus disaring terlebih dahulu sebelum di sharing.
Hadirin rahimakumullah
Tradisi pesantren sejak dahulu mengajarkan sanad keilmuan. Seorang santri tidak boleh sembarangan berbicara sebelum memahami ilmunya. Santri memiliki adab belajar. Ada proses talaqqi, ada penghormatan kepada guru, dan ada tanggung jawab atas ilmu yang dipelajari dan dimiliki. Imam Malik pernah berkata:
لَا يَنْبَغِي لِرَجُلٍ أَنْ يَرَى نَفْسَهُ أَهْلًا لِشَيْءٍ حَتَّى يَسْأَلَ مَنْ هُوَ أَعْلَمُ مِنْهُ
Tidaklah patut seseorang menganggap dirinya layak (untuk berfatwa/melakukan sesuatu) sampai ia bertanya kepada orang yang lebih alim darinya.
Ungkapan ini menegaskan bahwa para ulama sangat berhati-hati dalam berfatwa atau berbicara. Mereka berhati-hati karena takut jika apa yang mereka sampaikan akan menyesatkan manusia. Kondisi itu berbalik dengan situasi hari ini ini. Orang lebih banyak percaya pada potongan-potongan video daripada apa yang dikatakan ulama. Media sosial lebih dianggap cukup menjadi pengganti guru dan sebagian orang cukup belajar dari media sosial. Sikap demikian menjadikan orang menjadi mudah menghakimi, mudah membenci, memecah belah persatuan dan persaudaraan. Inilah tantangan santri yang memiliki tugas mempererat umat. Santri juga tetap harus bersikap rendah hati dalam belajar ilmu, santun dalam berdakwah, dan bijak dalam menyikapi perbedaan
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah
Keilmuaan selalu mengutamakan kemaslahatan, bukan popularitas semata. Sementara pada era digital ini, seseorang bisa cepat terkenal dengan sensansi dan kontroversi. Keberkahan ilmu bukan karena viral tetapi ilmu tersebut dapat mendekatkan manusia kepada Allah dan memperbaiki akhlak manusia. Allah Swt. berfirman:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui. (QS. Yusuf: 76)
Ayat ini memberikan pelajaran tentang kerendahan hati. Ketinggian ilmu seorang harusnya diiringi dengan kerendahan hati. Santri yang baik mereka tidak akan menyombongkan diri dengan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini karena ilmu yang tidak diiringi dengan adab akan menyebabkan kerusakan atau kemudaratan semata.
Hadirin yang dimuliakan Allah
Santri dan umat Islam harus memiliki tanggung jawab di tengah derasnya informasi. Minimal ada empat hal yang perlu dan penting untuk diperhatikan. Pertama, membiasakan tabayyun ketika menerima berita dan menyebarkan berita. Muslim yang bijak harusnya tidak mudah percaya pada judul provokatif, gambar yang menarik, dan pesan yang viral. Kedua, menguatkan literasi keislaman dengan cara belajar kepada guru yang ahli, terpercaya, dan bersanad keilmuan yang jelas. Ketiga, media sosial digunakan untuk sarana berdakwah yang moderat, menenangkan, menyejukkan, dan bukan alat untuk memecah belah atau berisi cacian makian. Keempat, persatuan umat harus terus dijaga. Perbedaan kecil tidak tidak perlu dibesar-besarkan agar persaudaraan (ukhuwah Islamiyah) dan persatuan tetap terjaga.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah
Santri berperan penting dalam menjaga umat dan persatuan bangsa Indonesia ini. Pesantren telah melahirkan banyak tokoh perjuangan kemerdekaan. Santri selalu berperan dalam menjaga moral masyarakat, mengajarkan Islam yang damai dan rahmatan lil’alamin. Karena itu, semangat perjuangan yang telah hidup harus tetap dijaga di era digital ini. Jihad para ulama dulu benar-benar melawan penjajahan secara fisikk, namun perjuangan santri dan umat saaat ini adalah melawan informasi yang tidak benar, hoaks, sarat fitnah, ujaran kebencian, dan manipulasi. Sebagai umat Islam tidak boleh menjadi korban adu domba hanya karena informasi yang palsu dan hoaks. Jangan sampai persaudaran dan persatuan yang telah terbangun rusak hanya karena berita bohong atau berita yang tidak jelas kebenarannya.
Akhirnya, momentum hari santri ini mari kita jadikan ilmu sebagai cahaya, bukan alat permusuhan. Media sosial merupakan sarana dakwah dan bukan tempat menebar kebencian. Mari menjadi muslim yang mampu menjaga amanah ilmu dan mengamalkannya dengan penuh tanggung jawab.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ .اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ .اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلَاءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلَازِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ .اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ . عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر
Jika Anda membutuhkan sitasi pada Buku Digital ini, silahkan generate secara otomatis menjadi format APA, MLA, IEEE, Chicago, Harvard, dan Turabian.
Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.
* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.