Refleksi Resolusi Jihad untuk Menguatkan Persatuan

Refleksi Resolusi Jihad untuk Menguatkan Persatuan
Pengarang
Subdit Kepustakaan Islam 
Instansi
Kementerian Agama RI 
Kategori
Hari Santri 
Statistik Data
 
Tgl. Publish
Selasa, 20 Oktober 2026 

Refleksi Resolusi Jihad untuk Menguatkan Persatuan

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْجِهَادِ وَالْوَحْدَةِ وَنَهَانَا عَنِ الْعَدَاوَةِ والتَّفَرُّقَةِ، وَيُسَبِّبُ فِي الْوَحْدَةِ قُوَّةً وَفِي الْتَّفَرُّقِ ضَعِيْفَةً، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَي مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللّٰهُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Khatib berwasiat untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa di sini bukan sekadar takut kepada Allah, melainkan kesadaran untuk menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, menjaga persatuan dan kesatuan serta membekali diri dengan amal baik untuk kehidupan akhirat yang abadi.

Hadirin Jemaah Jumat Rahimakumullah

Pada kesempatan yang mulia ini, dalam momentum peringatan Hari Santri, khatib akan menyampaikan tema “Resolusi Jihad untuk Menguatkan Persatuan.” Allah telah mengingatkan dengan tegas dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai; dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya jadilah kamu orang-orang yang bersaudara. (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencatat bahwa di saat kemerdekaan baru berumur sekitar 3 bulan, Indonesia kembali menghadapi ancaman besar berupa serangan gabungan dari Belanda dan sekutunya yang masih enggan mengakui kemerdekaan Indonesia. Seluruh rakyat Indonesia bangkit melawan. Rakyat Indonesia tidak sudi kembali menjadi bangsa jajahan. Kemerdekaan harus dipertahankan. Dengan berbagai cara dan senjata yang sederhana, seluruh elemen bangsa kompak berjuang. Termasuk juga para kyai dan para santri. Karena itu lahirlah fatwa Resolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober 1945 oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama dan disambut riuh nan heroik, penuh pengorbanan oleh para santri di setiap pesantren dan seluruh lapisan masyarakat. Fatwa itu menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan tanah air dari ancaman penjajah adalah fardhu ‘ain—kewajiban individu atas setiap Muslim.

Sejarah itu mengajarkan kepada kita semua bahwa pesantren tidak pernah berdiri di luar persoalan bangsa. Ketika agama membutuhkan pengabdian, santri hadir. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, santri hadir. Ketika kemerdekaan membutuhkan pengorbanan, santri pun hadir. Dari sini kita belajar bahwa menjadi santri bukan sekadar pandai membaca kitab kuning. Menjadi santri berarti bersedia mengabdikan diri untuk keselamatan bangsa dan demi kemaslahatan manusia.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah

Jika dulu santri bersama masyarakat berjihad mempertahankan kemerdekaan, maka hari ini kita semua harus berjihad mengisi kemerdekaan. Jika dulu tantangan para pendahulu kita adalah penjajahan, maka hari ini tantangan kita lebih berat dan lebih beraneka. Ada kebodohan, kemiskinan, korupsi, juga ketidakadilan dan kesenjangan sosial. Ancaman lainnya mewujud dalam bentuk perpecahan atau disintegrasi, kerusakan lingkungan dan penyalahgunaan teknologi, serta dekadensi moral hingga krisis keteladanan.

Maka jihad kita dan para santri hari ini hendaknya harus meneladani para pendahulu dalam menjalin persatuan. Kita bisa berjuang sebagaimana para pendahulu kita berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Hari ini kita berjihad melawan kebodohan dengan ilmu. Di masa sekarang kita berjihad melawan kemiskinan dengan pemberdayaan. Kita berjihad melawan korupsi dengan kejujuran. Kita berjihad melawan perpecahan dengan persatuan dan persaudaraan. Kita berjihad melawan kerusakan lingkungan dengan menjaga bumi. Dan kita berjihad melawan kezaliman dengan menegakkan keadilan.

Jemaah Jumat yang Berbahagia

Baginda Rasulullah Saw. telah memberikan gambaran tentang betapa pentingnya solidaritas kebangsaan dan kepedulian sosial dalam membangun negeri, beliau bersabda:

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رواه البخاري ومسلم)

Diriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seumpama satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh anggota tubuh yang lain ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu dalamnya makna hadis ini, sehingga para pahlawan yang gugur syahid dan para pejuang yang gigih dalam merebut kembali kemerdekaan Republik ini bersatu padu laksana satu tubuh yang selalu utuh dalam suka maupun duka. Para ulama dan santri terdahulu membuktikan bahwa membela negara dari perpecahan dan penjajahan adalah bentuk pengabdian tertinggi kepada agama. Dan Resolusi Jihad telah mengajarkan kepada kita satu hal mendasar bahwa Islam dan kebangsaan tidak pernah dipertentangkan. Cinta tanah air (hubbul wathan) adalah manifestasi keimanan.

Hadirin yang Dimuliakan Allah

Lantas bagaimanakah kita merefleksikan resolusi jihad dalam konteks persatuan dan pembangunan nasional? Pembangunan nasional membuka ruang yang sangat luas bagi para santri dan juga lapisan masyarakat lainnya untuk berpartisipasi. Ketika bangsa memperkuat ideologi Pancasila, demokrasi dan kehidupan kebangsaan, santri hadir membawa tradisi ukhuwah, persaudaraan, dan toleransi. Ketika bangsa membangun kemandirian pangan, energi dan air, pesantren dapat menjadi pusat ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Begitu pula dari sisi kontribusi sumber daya manusia. Ketika bangsa berjuang meningkatkan kualitas SDM maka pesantren memiliki pengalaman panjang dalam mendidik manusia menjadi generasi yang kuat dan mandiri. Dan ketika persatuan dan keamanan bangsa harus dijaga, santri harus menjadi kekuatan yang merawat kedamaian. Dan ketika Indonesia memainkan peran lebih besar di dunia, santri dapat menampilkan wajah Islam Indonesia yang damai, beradab, dan menghargai kemanusiaan.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Setidaknya ada tiga poin penting yang dapat kita petik dari refleksi Resolusi Jihad dalam menguatkan persatuan bangsa saat ini.

Pertama, jihad menjaga persatuan dan merawat persaudaraan. Para santri dan segenap masyarakat harus memperkuat ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

Kedua, jihad melawan kebodohan dan narasi perpecahan. Segenap umat harus menangkal penyebaran fitnah, ujaran kebencian, serta berita bohong yang mewujud dalam berbabgai media dengan meningkatkan kecerdasan, sikap kritis, dan akhlakul karimah.

Ketiga, kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Segenap santri dan masyarakat harus hadir memberikan solusi nyata dalam pendidikan, pemberdayaan ekonomi, penegakan keadilan, dan pemeliharaan lingkungan.

Akhir kata, mari kita warisi semangat Resolusi Jihad ini bukan sekedar seremoni, melainkan menjadi daya dorong untuk terus memperkuat persatuan dan kesatuan. Kita harus memelihara keberanian untuk berkorban, membela yang benar, menolak kezaliman, dan merajut persaudaraan. Semoga para santri senantiasa menjadi generasi penyambung warisan ulama yang membawa Indonesia menjadi negeri yang maju, adil, makmur. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ، وَاجْعَلْ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Form Generate Sitasi

Kolom Komentar

Support kami dengan komentar positif dan ulasan yang membangun.

* Anda Wajib login Untuk Menulis Komentar/Review.

Subscribe ELIPKSI

Jangan Lewatkan

Jangan sampai Anda terlewatkan update buku terbaru dari ELIPSKI, segera berlanganan gratis melalui email.

Verifikasi Google pada formulir ini hanya berlaku di situs Kemenag.

Buka formulir berlangganan